Rabu, 21 Desember 2011
Minggu, 18 Desember 2011
FUNGSI PSIKOLOGI PENDIDIKAN BAGI ANAK
1.
Psikologi
mempunyai pengaruh yang besar tehadap kemajuan dan perkembangan
pendidikan(pedagogik). Oleh karena itu,
pedagogi-sebagai ilmu pengetahuan yang bertujuan untuk membimbing sepanjang
hayatnya-tidak akan mencapai sukses jikatidak berpedoman kepada psikologi yang
bertugas menunjukan perkembangan hidup manusia sekaligus cirri-ciri,watak, dan
kepribadian.
Psikologi memang dapat memberikan bimbingan kepada pendidikan,
misalnya bagaimanna cara anak belajar, berfikir, mengingat, berkonsentrasi, dan
sebagainya. Dengan kata lain, pedagogi akan dapat cepat mencapai sasaran
bimbingan bila ia dapat memahami langkah-langkah yang sesuai dengan petunjuk psikologi.
2.
Jiwa
anak memang berbeda dengan jiwa orang dewasa, karena itu cara mendidiknya pun
tidak sama dengan cara mendidik orang dewasa. Lebih-lebih di saat pertumbuhan
anak menuju tingkat dewasa, pendidikan harus menyesuaikan pola pendidikannya
dengan karakteristik yang dimiliki anak. Disinilah pentingnya psikologi
pendidikan. Dengan demilikinya penetahuan tentang psikologi pendidikan anak,
maka para pendidikan pun akan dapat menepikan kesalahan-kesalahan dalam proses
pendidikan dan pertumbuhan anak menuju dewasa.
Di samping itu, dari psikologi pulalah kita dapat mengeahui
Bahwa pendidikan yang merupakan applied dari psikologi
tidak boleh menonjolkan salah satu fungsi saja dari kejiwaan si anak. Misalnya
kalau ditonjolkan fungsi piker saja maka akan cendrung ke intelektualistis,
kalau yang ditonjolkan fungsi rasanya saja maka akan cendrung ke emosionalistis,
dan kalau yang dtonjolkan fungsi kemauannya saja akan cendrung ke oluntaristis.
3.
Manusia
juga merupakan psychosomatic, makhluk yang terdiri dari dua aspek
kehidupan. Kedua aspek itu ialah aspek jism, jasmani atau fisikologis, dan
aspek ruh, rohani (psikologis). Kedua
aspek tersebut satu sama lain sangat mempengaruhi.karena itu, kelemahanda
kesempurnaansatu satu aspek akan berpengaruh langsung terhadap aspek yang
lain.sehingga terjadi dinamika (ketegangan)antara keduanya.dengan demikian unsur
jasmani itu menentukankondisi karakter, dan sebaliknya karakter mempengaruhi
ekspresi fisik dan tingkah laku jasmaniah.
4. Menurut
Sigmund Freud, kepribadian itu terdir dari atas tiga istem atau aspek, yaitu:
1.
Das
Es (the id), yaitu aspek biologis,
2.
Das
Icp (the ego), yaitu aspek psikologis,
3.
Das
Ueber Ich ( the super ego), yaitu aspek
sosiologis.sukar (tidak mungkin) untuk memisah-misahkan pengaruhnya terhadap
tingkah laku manusia.
Kendatipun ketiga aspek itu masing-masing mempunyai fungsi, prinsip
kerja, sifat, dan dinamika sendiri-sendiri, namun ketiga berhubungan dengan
rapatnya sehingga
1.
Das
Es (Id) atau aspek biologis dari pada kepribadian adalah aspek yang
orisnal. Dari sinilah kedua aspek yang lain diasalkan. Das es berfungsi dengan
berpegang kepada prnsip “kenikmatan” (lustprinzip pleasure principle), yaitu
encari keenakan dan menghindari diri dari ketidakenakan. Untuk menghilangkan
ketidakenakan itu Das Es mempunyai dua macam cara yaitu:
a)
Reflex
dan reaksi-reaksi otomatis, seperti bersin, berkedip dan sebagainya
b)
Proses
primer, seperti kalau orang lapar lalu membayangkan makanan.
Akan tetapi
jelas kiranya bahwa cara”ada” uang demikianitu tidak mungkin dipertahankan:
orang yang lapar tidak akan menjadi kenyang dengan membayangkan makanan. Karena
itulah dengan sendirinya dibutuhkan adanya aspek lain yang menghubungkan
peribadi dengan dunia objektif. Asfek ini ialah Das ich.
2.
Das
ich (ego) atau aspek psikologis dari kepribadian ini timbul dari
kebutuhn orgnisme untuk dapat berhubungan dengan dunia luar secara realitas. Di
dalam berfungsinya Das Ich itu berpegang kepada prinsip “realitas”(realitatsprinzip
reality principle). Tujuannya masih dalam garis kepentingan organisme,
yaitu mendapatkan keenakan dan menghindarkan diri dari ketidakenakan, tetapi
dalam bentuk dan cara yang sesuai dengan kondisi-kondisi dunia riil, sesuai
dengan kenyataan, baik tiu kenyataan benda-benda, maupun kenyataan nilai-nilai
social.
3.
Das
Ueber Ich atau aspek sosiologis dari kepribadian ini merupakan wakil
nilai-nilai tradisional serta cita-cita masyarakat sebagaimana ditafsirkan
orang tua kepada anak-anaknya,yang diajarkan (dimasukan) dengan berbagai
perintah dan larangan. Das Ueber Ich lebih merupakan hal yang “ideal”
dripada hal yang “riil”, lebih itu Das Ueber Ich dapat pula dianggap sebagai
aspek moral daripada kepribadian. Fungsinya yang terutama ialah menentukan
apakah sesuatu susila atau tidak susila,
pantas atautidak pantas, benar atau salah, dan dengan berpedoman ini pribadi
dapat bertindak dalam cara yang sesuai dengan moral masyarakat.
Sasaran dari
obyek pendidikan adalah pembentukan karakter. Dimana didalam proses pendidikan ini di tekankan pada proses
pembentukan karakter yang di harapkan dari hasil pendidikan ini adalah murid
memiliki karakter yang sesuai dengan tuajuan dari pendidikan.
Tujuan
pendidikan yang luhur bukanlah pengetahuan, melainkan tindakan
Yang
dimaksud disini adalah pendidikan lebih mengutamakan tindakan langsung kepada
murid sebagai bentuk perwujudan dari kepribadian murid tersebut, pendidikan
bukan bertujuan kepada pengetahuan karena pengetahuan hanya bersifat teori saja
yang mengacu hanya pada nilai angka saja bukan pada nialai norma.
Rabu, 07 Desember 2011
Gratis Domain Dot COM
Buat temen-temen blogger yang ingin menggunakan domain dot com tapi terbentur dana yang minim,, kaya saya ini, hehehe
saya punya info bagus ni, ada sebuah web yang menyediakan domain secara geratis tapi minim persyaratan, menurut saya sih, hehehe
soalnya syarat nya cuma,
mencari referal sebanyak 9 orang dan kita akan diberikan domain nya,
berikut rincian gambar nya,

Pendaftaran nya juga gak ribet kok, bagi yang berniat bisa mendaftar nya melalui referal saya, disini
Sesama sobat blogger harus saling membantu, Hehehehe
saya punya info bagus ni, ada sebuah web yang menyediakan domain secara geratis tapi minim persyaratan, menurut saya sih, hehehe
soalnya syarat nya cuma,
mencari referal sebanyak 9 orang dan kita akan diberikan domain nya,
berikut rincian gambar nya,

Pendaftaran nya juga gak ribet kok, bagi yang berniat bisa mendaftar nya melalui referal saya, disini
Sesama sobat blogger harus saling membantu, Hehehehe
Kamis, 17 November 2011
arti pendidikan dan pola pembelajaran
Arti pembelajaran
Menurut bahasa
adalah: perubahan tingkah laku yangberupa pikiran, perasaan, gerakan yang
meenjadi pengalaman.
Ø Perubahan: berbeda dari sebelumnya(berbeda menjadi
yang lebih baik).
Ø Tingkah: a. bisa berupa pikiran (otak)
b. Perasaan (hati)
c. Gerakan
(anggota tubuh)
Ø Pengalaman: sesuatu yang pernah dialami dan
mempunyai nilai, yang terjadi pada individu
Menurut istilah:
v Pembelajaran
adalah sebuah proses komunikasi antara pebelajar, pengajar dan bahan ajar.
Komunikasi tidak akan berjalan tanpa bantuan sarana penyampai pesan atau media.
Rabu, 16 November 2011
model dan pola dalam belajar
Robert M. Gagne membedakan pola-pola belajar siswa ke dalam delapan tipe, yaitu sebagai berikut:
1. Signal Learning (Belajar Isyarat)
Signal learning dapat diartikan sebagai proses penguasaan pola-pola dasar perilaku bersifat involuntary (tidak sengaja dan tidak disadari tujuannya)
2. Stimulus-Respons Learning (Belajar Stimulus-Respons)
Proses belajar bahasa pada anak-anak merupakan proses yang serupa dengan ini. Kondisi yang diperlukan untuk berlangsungnya tipe belajar ini adalah faktor inforcement. Waktu antara stimulus pertama dan berikutnya, semakin kuat reinforcement.
3. Chaining (Rantai atau Rangkaian)
Chaining adalah belajar menghubungkan satuan ikatan S-R (Stimulus-Respons) yang satu dengan lain. Kondisi yang diperlukan bagi berlangsungnya tipe belajar ini antara lain, secara internal anak didik sudah harus terkuasai sejumlah satuan S-R, baik psikomotorik maupun verbal.
4. Verbal Association (Assosiasi Verbal)
5. Discrimination Learning (Belajar Diskrimination)
6. Concept Learning (Belajar konsep)
7. Rule learning (Belajar aturan)
8. Problem solving (pemecahan masalah)
sumber: SVOONG
1. Signal Learning (Belajar Isyarat)
Signal learning dapat diartikan sebagai proses penguasaan pola-pola dasar perilaku bersifat involuntary (tidak sengaja dan tidak disadari tujuannya)
2. Stimulus-Respons Learning (Belajar Stimulus-Respons)
Proses belajar bahasa pada anak-anak merupakan proses yang serupa dengan ini. Kondisi yang diperlukan untuk berlangsungnya tipe belajar ini adalah faktor inforcement. Waktu antara stimulus pertama dan berikutnya, semakin kuat reinforcement.
3. Chaining (Rantai atau Rangkaian)
Chaining adalah belajar menghubungkan satuan ikatan S-R (Stimulus-Respons) yang satu dengan lain. Kondisi yang diperlukan bagi berlangsungnya tipe belajar ini antara lain, secara internal anak didik sudah harus terkuasai sejumlah satuan S-R, baik psikomotorik maupun verbal.
4. Verbal Association (Assosiasi Verbal)
5. Discrimination Learning (Belajar Diskrimination)
6. Concept Learning (Belajar konsep)
7. Rule learning (Belajar aturan)
8. Problem solving (pemecahan masalah)
sumber: SVOONG
Sabtu, 12 November 2011
PENGERTIAN PENELITIAN KUALITATIF DAN KUANTITATIF
Terdapat beberapa istilah pada kedua metode tersebut. Borg and
Gall (1989) menyatakan sebagai berikut:
Many
labels have been used to distinguish between traditional research methods and
these new methods: positivistic versus interpretive research; quantitative
versus qualitative research. The quantitative-qualitative distinction seem most
widely used. Both quantitative researchers and qualitative researcher go about
inqury in different ways.
Metode kuantitatif
dan kualitatif sering digunakan dengan nama metode yang tradisional, dan metode
baru; metode positivistik dan metode postpositivistik; metode scientific dan
metode artistik, metode konfirmasi dan temuan; serta kuantitatif dan dan
interpretif. Jadi metode kuantitatif sering dinamakan metide tradisional,
positifistik, scientific dan metode discovery. Selanjutnya metode kualitatif
sering dinamakan sebagai metode baru, postpositivistik; aretistik; dan
interpretive research.
Metode kuantitatif
dinamakan metode tradisional, karena metode ini sudah cukup lama digunakan
sehingga sudah mentradisi sebagai metode untuk penelitian. Metode ini disebut
sebagai metode positifistik karena berlandaskan pada filsafat positifisme. Metode
ini juga sebagai metode scientific/ilmiah karena telah memenuhi kaedah ilmiah
yaitu kongkrit, obyrktif, terstruktur, rasional, dan sistematis. Metode ini
dapat ditemukan dan dikembangkan berbagai iptek baru. Metode ini disebut metode
kuantitatif karena data penelitian berupa angka-angka dan analisis menggunakan
statistik.
Metode penelitian
kualitatif dinamakan sebagai metode baru, karena populasitasnya belum lama,
dinamakan metode postpositifistik karena berlandaskan pada filsafat
postpositifisme. Metode ini disebut juga sebagai metode artistik, karena proses
penelitian lebih bersifat seni (kurang terpola), dan disebut metode interpretif
karena data hasil penelitian lebih berkenenaan dengan interprestasi terhadap
data yang ditemukan dilapangan. Untuk selanjutnya dalam buku ini kedua metode
itu disebut mitode kualitatif dan kuantitatif.
Metode penelitian
kualitatif sering disebut metode penelitan naturalistik karena penelitianya
dilakukan pada kondisi yang alamiah (natural setting); disebut juga
sebagai metode etnographi, karena pada awalnya metode ini lebih banya digunakan
untuk penelitian bidang antropologi budaya; disebut sebagai metode kualitatif,
karen data yang terkumpul dan analisisnya lebih bersifat kualitatif.
Sabtu, 05 November 2011
perbedaan penelitian kualitatif dan kuantitatif
Menurut Strauss dan Corbin (1997: 11-13), yang dimaksud dengan penelitian
kualitatif adalah jenis penelitian yang menghasilkan penemuan-penemuan
yang tidak dapat dicapai (diperoleh)dengan menggunakan prosedur-prosedur
statistik atau cara-cara lain dari kuantifikasi(pengukuran). Penelitian
kualitatif secara umum dapat digunakan untuk penelitian tentangkehidupan
masyarakat, sejarah, tingkah laku, fungsionalisasi organisasi, aktivitas
sosial, danlain-lain. Salah satu alasan menggunakan pendekatan kualitatif
adalah pengalaman para penelitidimana metode ini dapat digunakan untuk
menemukan dan memahami apa yang tersembunyidibalik fenomena yang kadangkala
merupakan sesuatu yang sulit untuk dipahami secaramemuaskan.Bogdan dan Taylor
(1992: 21-22) menjelaskan bahwa penelitian kualitatif adalah salah
satu prosedur penelitian yng menghasilkan data deskriptif berupa ucapan
atau tulisan dan perilakuorang-orang yang diamati. Pendekatan kualitatif
diharapkan mampu menghasil kan uraian yangmendalam tentang ucapan, tulisan, dan
atau perilaku yang dapat diamati dari suatu individu,kelompok, masyarakat, dan
atau organisasi tertentu dalam suatu setting konteks tertentu yangdikaji dari
sudut pandang yang utuh, komprehensif, dan holistik. Penelitian kualitatif
bertujuanuntuk mendapatkan pemahaman yang sifatnya umum terhadap kenyataan
sosial dari perpektif partisipan. Pemahaman tersebut tidak
ditentukan terlebih dahulu, tetapi didapat setelahmelakukan analisis terhadap
kenyataan sosial yang menjadi fokus penelitian. Berdasarkananalisis tersebut
kemudian ditarik kesimpulan berupa pemahaman umum yang sifatnya
abstrak tentang kenyataan-kenyataan (Hadjar, 1996 dalam Basrowi dan
Sukidin, 2002: 2)Konsep dan Ragam Penelitian Kualitatif Istilah penelitian
kualitatif menurut Kirk dan Miler (1986: 9) pada mulanya bersumber
pada pengamatan kualitatif yang dipertentangkan dengan pengamatan
kuantitatif. Pengamatankuantitatif melibatkan pengukuran tingkatan suatu ciri
tertentu. Untuk menemukan sesuatudalam pengamatan, pengamat harus mengetahui
apa yang menjadi ciri sesuatu itu. Untuk itu pengamat pengamat mulai
mencatat atau menghitung dari satu, dua, tiga dan seterusnya.Berdasarkan
pertimbangan dangkal demikian, kemudian peneliti menyatakan bahwa
penelitiankuantitatif mencakup setiap penelitian yang didasarkan atas
perhitungan persentase, rata-rata dan perhitungan statistik lainnya.
Dengan kata lain, penelitian kuantitatif melibatkan diri
pada perhitungan atau angka atau kuantitas.Di pihak lain kualitas menunjuk
pada segi alamiah yang dipertentangkan dengan kuantum atau jumlah
tersebut. Atas dasar pertimbangan itulah maka kemudian penelitian kualitatif
tampaknyadiartikan sebagai penelitian yang tidak mengadakan perhitungan.
Pemahaman yang demikiantidak selamanya benar, karena dalam perkembangannya ada
juga penelitian kualitatif yangmemerlukan bantuan angka-angka seperti untuk
mendeskripsikan suatu fenomena maupun gejalayang diteliti.Dalam perkembangan
lebih lanjut ada sejumlah nama yang digunakan para ahli tentangmetodologi
penelitian kualitatif (Noeng Muhadjir. 2000: 17) seperti : interpretif
groundedresearch, ethnometodologi, paradigma naturalistik, interaksi simbolik,
semiotik, heuristik,hermeneutik, atau holistik, yang kesemuanya itu tercakup
dalam klasifikasi metodologi penelitian postpositivisme phenomenologik
interpretif.Berdasarkan beragam istilah maupun makna kualitatif, dalam dunia
penelitian istilah penelitiankualitatif setidak-tidaknya memiliki dua makna,
yakni makna dari aspek filosofi penelitian danmakna dari aspek desain
penelitian.Pengertian penelitian kualitatif lainnya:"Penelitian kualitatif
adalah kategori yang didefinisikan secara longgar dari desain penelitianatau
model, yang semuanya menimbulkan verbal, visual, sentuhan, penciuman, dan
gustatorydata dalam bentuk narasi deskriptif seperti catatan lapangan, rekaman,
atau transkripsi lainnyadari audio dan video dan lain yang ditulis catatan dan
gambar-gambar atau film "-Judith Preissle.Penelitian kualitatif juga
disebut dengan: interpretive research, naturalistic research, phenomenological
research (meskipun ini disebut sebagai jenis dari penelitian kualitaif
yangdipakai penelitian deskriptif).Pendekatan kuantitatif mementingkan adanya
variabel-variabel sebagai obyek penelitian danvariabel-variabel tersebut harus
didefenisikan dalam bentuk operasionalisasi variable masing-masing.
Reliabilitas dan validitas merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi
dalammenggunakan pendekatan ini karena kedua elemen tersebut akan menentukan
kualitas hasil penelitian dan kemampuan replikasi serta generalisasi
penggunaan model penelitian sejenis.Selanjutnya, penelitian kuantitatif
memerlukan adanya hipotesa dan pengujiannya yangkemudian akan menentukan
tahapan-tahapan berikutnya, seperti penentuan teknik analisa danformula
statistik yang akan digunakan. Juga, pendekatan ini lebih memberikan makna
dalamhubungannya dengan penafsiran angka statistik bukan makna secara
kebahasaan dan kulturalnyaPerbedaan Penelitian Kualitatif Dan
Kuantitatif Penelitian untuk membuktikan atau menemukan sebuah kebenaran
dapat menggunakan dua pendekatan, yaitu kuantitatif maupun kualitatif.
Kebenaran yang di peroleh dari dua pendekatantersebut memiliki ukuran dan sifat
yang berbeda.Pendekatan kuantitatif lebih menitik beratkan pada frekwensi
tinggi sedangkan pada pendekatankualitatif lebih menekankan pada esensi dari
fenomena yang diteliti. Kebenaran dari hasilanalisis penelitian kuantitatif
bersifat nomothetik dan dapat digeneralisasi sedangkan hasilanalisis penelitian
kualitatif lebih bersifat ideographik, tidak dapat digeneralisasi.Hasil
analisis penelitian kualitatif naturalistik lebih bersifat membangun,
mengembangkanmaupun menemukan terori-teori sosial sedangkan hasil analisis
kuantitatif cenderungmembuktikan maupun memperkuat teori-teori yang sudah ada.
Perbedaan Antara
Penelitian Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif Kebutuhan pemahaman yang
benar dalam menggunakan pendekatan, metode ataupun teknik untuk melakukan
penelitian merupakan hal yang penting agar dapat dicapai hasil yang akuratdan
sesuai dengan tujuan penelitian yang sudah ditentukan sebelumnya. PErbedaan
pendekatankualitatif dan kuantitatif yaitu:
1.
Konsep
yang berhubungan dengan pendekatanPendekatan kualitatif menekankan pada makna,
penalaran, definisi suatu situasi tertentu (dalamkonteks tertentu), lebih banyak meneliti hal-hal yang berhubungan dengan
kehidupan sehari-hari.Pendekatan kualitatif, lebih lanjut, mementingkan
pada proses dibandingkan dengan hasil akhir;oleh karena itu urut-urutan
kegiatan dapat berubah-ubah tergantung pada kondisi dan banyaknyagejala-gejala
yang ditemukan. Tujuan penelitian biasanya berkaitan dengan hal-hal yang
bersifat praktis.
Pendekatan
kuantitatif mementingkan adanya variabel-variabel sebagai obyek penelitian danvariabel-variabel tersebut harus didefenisikan dalam
bentuk operasionalisasi variable masing-masing. Reliabilitas dan validitas
merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi dalammenggunakan pendekatan
ini karena kedua elemen tersebut akan menentukan kualitas hasil penelitian dan
kemampuan replikasi serta generalisasi penggunaan model penelitian sejenis.Selanjutnya,
penelitian kuantitatif memerlukan adanya hipotesa dan pengujiannya yangkemudian
akan menentukan tahapan-tahapan berikutnya, seperti penentuan teknik analisa
danformula statistik yang akan digunakan. Juga, pendekatan ini lebih memberikan
makna dalamhubungannya dengan penafsiran angka statistik bukan makna secara
kebahasaan dan kulturalnya.
2. Dasar
TeoriJika kita
menggunakan pendekatan kualitatif, maka dasar teori sebagai pijakan ialah adanyainteraksi simbolik dari suatu gejala dengan gejala
lain yang ditafsir berdasarkan pada budayayang bersangkutan dengan cara
mencari makna semantis universal dari gejala yang sedangditeliti. Pada mulanya teori-teori kualitatif muncul dari
penelitian-penelitian antropologi ,etnologi,
serta aliran fenomenologi dan aliran idealisme. Karena
teori-teori ini bersifat umum danterbuka
maka ilmu social lainnya mengadopsi sebagai sarana penelitiannya.Lain
halnya dengan pendekatan kuantitatif, pendekatan ini berpijak pada apa yang
disebutdengan fungsionalisme struktural,
realisme, positivisme, behaviourisme dan empirisme yangintinya menekankan
pada hal-hal yang bersifat kongkrit, uji empiris dan fakta-fakta yang nyata.
3. Tujuan
Tujuan utama
penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif ialah
mengembangkan pengertian, konsep-konsep, yang pada akhirnya menjadi teori,
tahap ini dikenal sebagai³grounded theory
research´.Sebaliknya pendekatan kuantitatif bertujuan untuk menguji
teori, membangun fakta,menunjukkan hubungan
antar variable, memberikan deskripsi statistik, menaksir danmeramalkan hasilnya.
4. Desain
Melihat
sifatnya, pendekatan kualitatif desainnya bersifat umum, dan berubah-ubah
/ berkembang sesuai dengan situasi di lapangan. Kesimpulannya, desain
hanya digunakan sebagaiasumsi untuk melakukan
penelitan, oleh karena itu desain harus bersifat fleksibel dan terbuka.Lain
halnya dengan desain penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif,
desainnyaharus terstruktur, baku, formal dan
dirancang sematang mungkin sebelumnya. Desainnya bersifatspesifik dan
detil karena desain merupakan suatu rancangan penelitian yang akan
dilaksanakansebenarnya. Oleh karena itu, jika desainnya salah, hasilnya akan
menyesatkan. Contoh desainkuantitatif: ex post facto dan desain experimental
yang mencakup diantaranya one short casestudy,
one group pretest, posttest design, Solomon four group design dll.nya.
5. Data
Pada pendekatan
kualitatif, data bersifat deskriptif, maksudnya data dapat berupa gejala-gejalayang
dikategorikan ataupun dalam bentuk lainnya, seperti foto, dokumen, artefak dan
catatan-catatan lapangan pada jsaat penelitian dilakukan.Sebaliknya penelitian
yang menggunakan pendekatan kuantitatif datanya bersifat kuantitatif
/angka-angka statistik ataupun koding-koding yang dapat dikuantifikasi. Data
tersebut berbentuk variable-variajbel dan
operasionalisasinya dengan skala ukuran tertentu, misalnya skala nominal,ordinal, interval dan ratio.
6.
Sampel
Sampel kecil merupakan ciri pendekatan kualitatif
karena pada pendekatan kualitatif penekanan pemilihan sample didasarkan
pada kualitasnya bukan jumlahnya. Oleh karena itu, ketepatandalam memilih sample
merupakan salah satu kunci keberhasilan utama untuk
menghasilkan penelitian yang baik. Sampel juga dipandang sebagai sample
teoritis dan tidak representatif Sedang pada pendekatan kuantitatif,
jumlah sample besar, karena aturan statistik mengatakan bahwa semakin
sample besar akan semakin merepresentasikan kondisi riil. Karena padaumumnya
pendekatan kuantitatif membutuhkan sample yang besar, maka stratafikasi
samplediperlukan . Sampel biasanya diseleksi secara random. Dalam melakukan
penelitian, bila perludiadakan kelompok pengontrol untuk pembanding sample yang
sedang diteliti. Ciri lain ialah penentuan jenis variable yang akan
diteliti, contoh, penentuan variable yang mana yangditentukan sebagai variable
bebas, variable tergantung, varaibel moderat, variable antara, danvaraibel
kontrol. Hal ini dilakukan agar peneliti dapat melakukan pengontrolan terhadap
variable pengganggu.
7.
Teknik Jika
peneliti menggunakan pendekatan kualitatif, maka yang bersangkutan kan
menggunakanteknik observasi terlibat langsung atau riset partisipatori, seperti
yang dilakukan oleh para peneliti bidang antropologi dan etnologi sehingga
peneliti terlibat langsung atau berbaur denganyang diteliti. Dalam praktiknya,
peneliti akan melakukan review terhadap berbagai dokumen,foto-foto dan artefak
yang ada. Interview yang digunakan ialah interview terbuka,
terstruktur atau tidak terstruktur dan tertutup terstruktur atau tidak
terstruktur.Jika pendekatan kuantitatif digunakan maka teknik yang dipakai akan
berbentuk observasiterstruktur, survei dengan menggunakan kuesioner, eksperimen
dan eksperimen semu. Dalammencari data, biasanya peneliti menggunakan kuesioner
tertulis atau dibacakan. Teknik mengacu pada tujuan penelitian dan jenis
data yang diperlukan apakah itu data primer atau sekunder.
8.
Hubungan dengan yang ditelitiDalam penelitian
yang menggunakan pendekatan kualitatif, peneliti tidak mengambil
jarak dengan yang diteliti. Hubungan yang dibangun didasarkan pada saling
kepercayaan. Dalam praktiknya, peneliti melakukan hubungan dengan yang
diteliti secara intensif. Apabila sample itumanusia, maka yang menjadi
responden diperlakukan sebagai partner bukan obyek penelitian.Dalam penelitian
yang menggunakan pendekatan kuantitatif peneliti mengambil jarak denganyang
diteliti. Hubungan ini seperti hubungan antara subyek dan obyek. Hal ini
dilakukan untuk mendapatkan tingkat objektivitas yang tinggi. Pada umumnya
penelitiannya berjangka waktu pendek.
9. Analisa DataAnalisa data dalam
penelitian kualitatif bersifat induktif dan berkelanjutan yang tujuan
akhirnyamenghasilkan pengertian-pengertian, konsep-konsep dan pembangunan suatu
teori baru, contohdari model analisa kualitatif ialah analisa domain, analisa
taksonomi, analisa komponensial,analisa tema kultural, dan analisa komparasi
konstan (grounded theory research).Analisa dalam penelitian kuantitatif
bersifat deduktif, uji empiris teori yang dipakai dandilakukan setelah selesai
pengumpulan data secara tuntas dengan menggunakan sarana statistik,seperti
korelasi, uji t, analisa varian dan covarian, analisa faktor, regresi linear
dll.nya.
Langganan:
Postingan (Atom)